Sriwijaya: Penguasa Lautan yang Mengubah Peta Dagang Dunia

Author Image

Mais Nurdin

18 Januari 2026, 10:14 WIB

Kerajaan Sriwijaya, sebuah nama yang tak asing dalam pelajaran sejarah Indonesia, pernah menjelma menjadi salah satu kekuatan maritim terbesar di Nusantara. Berpusat di Pulau Sumatra, kerajaan ini tak hanya menguasai wilayah yang luas, tetapi juga memegang peranan penting dalam perdagangan regional selama berabad-abad, mulai dari abad ke-7 hingga ke-14 Masehi.

Namun, apa yang membuat Sriwijaya begitu dominan di kancah perdagangan maritim Asia Tenggara? Keberadaannya bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari serangkaian faktor strategis yang saling mendukung. Mari kita telusuri lebih dalam bagaimana kerajaan ini mampu membangun kejayaannya.

Letak Geografis yang Menjadi Kunci Utama

Salah satu pilar utama kejayaan Sriwijaya terletak pada posisinya yang sangat strategis. Berada di tepi Sungai Musi di Sumatra Selatan, kerajaan ini memiliki akses langsung ke jalur pelayaran internasional yang vital.

Lokasinya yang tidak jauh dari Selat Malaka, jalur pelayaran paling ramai pada masanya yang menghubungkan India dan Tiongkok, menjadikannya titik sentral dalam perdagangan global.

Keunggulan geografis ini memungkinkan Sriwijaya untuk mengendalikan arus lalu lintas kapal dagang. Lebih dari itu, kerajaan ini mampu memungut pajak dari setiap kapal yang melintasi wilayah kekuasaannya, menjadikannya sumber pendapatan yang signifikan.

Komoditas Unggulan yang Dicari Dunia

Sriwijaya lihai dalam memanfaatkan kekayaan alam Nusantara sebagai daya tarik utama dalam perdagangan. Hasil bumi dan hutan menjadi primadona yang diperdagangkan.

Rempah-rempah seperti lada, cengkeh, dan pala menjadi komoditas ekspor andalan. Meskipun banyak di antaranya berasal dari wilayah lain seperti Maluku, Sriwijaya bertindak sebagai pusat transit yang krusial sebelum komoditas ini diekspor ke berbagai penjuru dunia.

Selain rempah-rempah, kayu cendana, gaharu, damar, dan kapur barus juga sangat diminati di pasar internasional, semakin memperkuat posisi Sriwijaya sebagai pusat perdagangan.

Jaringan Kemitraan Dagang yang Luas

Untuk memperluas jangkauan perdagangannya, Sriwijaya membangun hubungan erat dengan berbagai kekuatan besar pada masanya. Tiongkok, India, Arab, serta kerajaan-kerajaan lain di Nusantara menjadi mitra dagang utamanya.

Tiongkok menjadi salah satu mitra dagang terbesar, dengan permintaan tinggi terhadap rempah-rempah dan hasil hutan dari Sriwijaya. Sebagai gantinya, Tiongkok mengekspor barang-barang manufaktur berkualitas tinggi seperti sutra, keramik, dan porselen yang tidak diproduksi di Nusantara.

Hubungan dagang dengan India juga tak kalah penting. India menjadi pemasok tekstil, barang pecah belah, dan berperan besar dalam penyebaran pengaruh budaya serta agama di Sriwijaya. Meskipun demikian, Sriwijaya dikenal sebagai pusat penting bagi ajaran Buddha Mahayana dan pusat pendidikan agama Buddha di Asia Tenggara.

Infrastruktur Maritim yang Mendukung Aktivitas Perdagangan

Sebagai kerajaan maritim yang tangguh, Sriwijaya tidak hanya mengandalkan lokasi strategis, tetapi juga membangun infrastruktur yang memadai. Pelabuhan-pelabuhan penting dikembangkan di sepanjang Selat Malaka, berfungsi sebagai tempat singgah kapal dagang dan pusat kegiatan ekonomi yang dinamis.

Selain itu, sistem kanal dan irigasi yang baik dikembangkan untuk menunjang sektor pertanian dan mempermudah transportasi air.

Untuk menjaga kelancaran perdagangan, Sriwijaya membangun armada laut yang kuat dan mendirikan pangkalan militer di lokasi-lokasi strategis. Upaya ini penting untuk melindungi jalur perdagangan dari ancaman bajak laut.

Kebijakan Perdagangan yang Terorganisir dan Terstruktur

Salah satu kunci keberhasilan Sriwijaya adalah penerapan kebijakan perdagangan yang efektif. Kerajaan ini menerapkan sistem monopoli atas jalur-jalur perdagangan yang vital.

Pemerintah melakukan pengamanan ketat dan menetapkan aturan yang tegas untuk menciptakan lingkungan perdagangan yang aman dan kondusif. Setiap kapal yang melintasi wilayah Sriwijaya wajib membayar pajak atau bea cukai.

Pendapatan dari sektor inilah yang menjadi sumber utama kas kerajaan, memungkinkan Sriwijaya untuk terus berkembang dan mempertahankan kejayaannya selama berabad-abad.

Related Post