Setelah dipecat dari Manchester United, nama Ruben Amorim kembali menjadi sorotan. Pelatih asal Portugal ini disebut-sebut berpeluang besar untuk kembali berkiprah di Premier League. Bahkan, kemungkinan itu bisa datang dari klub besar, meskipun dengan cara yang cukup mengejutkan.
Keputusan pemecatan Amorim dari Old Trafford pekan lalu menyusul rentetan hasil buruk dan konflik internal. Padahal, sebelum ke Inggris, ia datang dengan reputasi mentereng setelah sukses membawa Sporting CP meraih dua gelar Liga Portugal. Namun, kariernya di MU tidak berjalan sesuai harapan.
Kemungkinan Kembali ke Premier League
Mantan bek Timnas Inggris, Sol Campbell, memberikan pandangannya terkait masa depan Amorim. Ia menilai pintu Premier League belum tertutup bagi pelatih berusia 40 tahun itu. Campbell bahkan meyakini Amorim bisa segera kembali melatih di Inggris untuk menangani klub besar lainnya.
Baca Juga
Tottenham Hotspur sebagai Pilihan?
Campbell menyebutkan bahwa Amorim adalah sosok “manajer ideal” untuk menggantikan Thomas Frank di Tottenham Hotspur. Ia bahkan mengindikasikan adanya peluang komunikasi yang telah terjalin antara kedua belah pihak. Tottenham saat ini tengah berjuang keras keluar dari krisis.
- Spurs hanya meraih satu kemenangan dari enam laga terakhir di liga.
- Terperosok ke posisi ke-14 klasemen.
- Kegagalan di Piala FA semakin memperburuk suasana.
Campbell menjawab dengan lugas ketika ditanya siapa yang pantas menggantikan Frank. “Ruben Amorim,” jawabnya. “Mereka pasti melihatnya. Mungkin saja mereka sudah berbicara dengannya sekarang, itu tidak akan mengejutkan saya. Saya rasa dia tidak akan kembali ke Portugal,” ujar Campbell.
Ia menambahkan, “Tottenham akan berbicara dengannya untuk melihat apakah ada peluang. Akan ada pembicaraan di balik layar.”
Tantangan di Tottenham
Campbell mengakui kemampuan Thomas Frank sebagai pelatih. Namun, ia menekankan bahwa tantangan di Tottenham akan sangat berbeda dibandingkan di Brentford. Menurutnya, Tottenham adalah klub besar dengan ekspektasi tinggi.
“Thomas Frank adalah manajer top, tetapi ini bukan Brentford lagi, ini level yang berbeda. Tottenham adalah klub besar dengan tuntutan tinggi,” kata Campbell.
“Mereka menginginkan kesuksesan dan kemajuan berkelanjutan. Jadi, saya tidak akan terkejut jika mereka berbicara dengan manajer lain,” tambahnya.
Ia juga menyoroti pentingnya performa di lapangan. “Terkadang Anda tidak harus menang, tapi jika tampil bagus dan menunjukkan arah yang benar, itu bisa membantu. Namun, sampai Anda mulai menang secara konsisten, pembicaraan dengan manajer lain akan terus ada,” ulasnya.
Amorim Dinilai Naif
Meskipun mendorong Amorim untuk kembali ke Premier League, Campbell juga menyoroti kegagalan sang pelatih di MU. Ia menilai Amorim bertindak naif selama menangani klub sebesar MU. Ia menyoroti tekanan besar yang kini dihadapi Frank, Campbell melihat Amorim kurang memahami besarnya MU.
“Tekanan selalu ada di level tertinggi, tapi di Tottenham, tekanannya datang dari segala arah,” ujarnya.
“Anda harus mampu mengelolanya, dengan pemain, manajemen, dan fans. Anda harus menjadi banyak hal sekaligus: negarawan, petarung, pelatih dengan sepak bola atraktif, dan tetap cerdas mengelola situasi,” ungkap eks bek Tottenham periode 1992-2001 ini.
“Betapa naifnya Ruben Amorim… kecuali Anda menang secara reguler, Anda tidak akan punya kendali,” kata Campbell.
“Era di mana manajer bisa mengontrol segalanya seperti Sir Alex Ferguson atau Arsene Wenger, sudah berlalu. Dia seharusnya tahu itu,” katanya lagi.
Tentang Kemenangan
Campbell menilai Amorim gagal memahami skala Manchester United. Menurutnya, MU adalah klub ikonik dan salah satu yang terbesar di dunia. Amorim dinilai gagal mengontrol semuanya.
“Dia tidak menyadari betapa raksasanya Manchester United. Ini klub ikonik, salah satu yang terbesar di dunia. Bagaimana mungkin Anda mengontrol semuanya? Itu tidak masuk akal,” tuturnya.
“Hal pertama yang harus Anda pahami adalah orang-orangnya, para penggemarnya, sejarahnya. Anda tidak bisa begitu saja membawa cara kerja dari tempat lain,” lanjut Campbell.
“Dan pada saat yang sama, Anda harus menang. Manchester United adalah tentang kemenangan. Anda tidak bisa berkata atau bersikap seperti itu, itu naif karena ini bukan Portugal. Ini Inggris, dan ini salah satu klub terbesar di dunia,” kata pria berusia 51 tahun tersebut.




