Banjir Insentif Rp110 T, Saham Tekstil Meroket!

Author Image

Mais Nurdin

18 Januari 2026, 17:37 WIB

Saham-saham di sektor tekstil menunjukkan performa gemilang pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026. Lonjakan signifikan ini dipicu oleh rencana pemerintah yang akan menyuntikkan dana sebesar Rp101 triliun untuk industri tekstil nasional.

Perhatian pelaku pasar tertuju pada kenaikan saham tekstil ini, yang mencerminkan optimisme investor terhadap prospek pemulihan industri padat karya. Hal ini terjadi di tengah penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Dana sebesar Rp101 triliun, atau setara dengan USD6 miliar, direncanakan untuk penyelamatan dan penguatan industri tekstil. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi ancaman perang tarif global yang berpotensi menghantam industri andalan ekonomi nasional.

Lebih lanjut, terdapat rencana pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tekstil baru. Entitas ini akan dikelola oleh Danantara dengan tujuan utama melakukan modernisasi, peningkatan teknologi, serta mendorong ekspor yang ditargetkan melonjak dari USD4 miliar menjadi USD40 miliar dalam kurun waktu 10 tahun.

Sentimen positif ini tidak hanya mendongkrak harga saham emiten tekstil di Bursa Efek Indonesia (BEI), tetapi juga memperkuat persepsi pasar mengenai peran strategis pemerintah. Pembentukan BUMN tekstil baru menjadi sorotan utama dalam upaya restrukturisasi industri tekstil nasional.

Bagi investor ritel dan trader saham, momentum ini menjadi relevan untuk mencari informasi mengenai saham-saham tekstil, saham BUMN baru, serta peluang investasi di sektor manufaktur pada awal tahun 2026.

Deretan Saham Tekstil yang Melonjak Tajam

Berdasarkan pantauan berbagai sumber pada Jumat, 16 Januari 2026, penguatan saham tekstil terjadi secara merata di berbagai lini emiten. Mulai dari produsen kain, serat sintetis, hingga garmen, beberapa saham bahkan mencatatkan kenaikan harga lebih dari 30% dalam satu hari perdagangan.

Salah satu emiten yang melesat adalah PT Trisula Textile Industries Tbk. (BELL). Sahamnya melonjak 34,15% dan ditutup pada level Rp110 per saham. Kinerja serupa dicatatkan oleh PT Ever Shine Textile Tbk. (ESTI), yang melambung 34,75% hingga mencapai harga Rp190 per saham.

Emiten Tekstil Lain Ikut Menguat

Tren penguatan juga terlihat pada emiten lain. PT Inocycle Technology Group Tbk. (INOV) mencatatkan kenaikan harga sebesar 34,5%, ditutup pada Rp183 per saham. PT Indo-Rama Synthetics Tbk. (INDR) turut mengalami kenaikan signifikan, mencapai 24,7% dengan harga saham Rp3.480.

Penguatan juga terjadi pada saham PT Golden Flower Tbk. (POLU) yang naik 19,9% menjadi Rp27.100. Selanjutnya, PT Trisula International Tbk. (TRIS) menguat 16,6% ke level Rp238, sementara PT Argo Pantes Tbk. (ARGO) naik 13,5% dan ditutup pada harga Rp1.215.

Saham Tekstil Lapis Kedua Ikut Naik

Tidak hanya emiten dengan kapitalisasi pasar menengah, saham-saham tekstil lapis kedua pun turut mencatat penguatan. PT Tifico Fiber Indonesia Tbk. (TFCO) tercatat naik 10% dengan harga saham Rp605.

Sementara itu, PT Pan Brothers Tbk. (PBRX) menguat 8,9% ke level Rp61. PT Asia Pacific Fibers Tbk. (POLY) naik 8,88% dan ditutup pada harga Rp49. Terakhir, PT Sunson Textile Manufacturer Tbk. (SSTM) menguat 5,74% ke level Rp3.130.

Sejalan dengan Penguatan IHSG

Kenaikan saham-saham tekstil ini berjalan seiring dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, IHSG berhasil menguat 0,47% dan bertengger di level 9.075.

Penguatan IHSG ini mencerminkan sentimen positif dari pasar terhadap kombinasi berbagai faktor, termasuk kondisi makroekonomi, kebijakan pemerintah, serta prospek sektor-sektor strategis yang dipandang berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi nasional.

Pemerintah Siapkan BUMN Tekstil Baru

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah menyatakan bahwa suntikan dana Rp101 triliun ke industri tekstil akan diarahkan untuk pembentukan BUMN tekstil baru. BUMN ini direncanakan akan dikelola oleh Danantara sebagai bagian dari strategi restrukturisasi dan penguatan industri tekstil nasional.

Langkah kebijakan ini dinilai sebagai katalis positif bagi pasar, terutama bagi emiten tekstil yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan akibat pelemahan permintaan global dan tingginya biaya produksi.

Momentum Baru Saham Tekstil?

Lonjakan saham tekstil ini menjadi cerminan optimisme pasar terhadap keberpihakan pemerintah pada industri padat karya yang strategis. Bagi para investor, pergerakan ini menjadi sinyal penting untuk terus mencermati fundamental emiten, arah kebijakan lanjutan dari pemerintah, serta keberlanjutan realisasi pembentukan BUMN tekstil yang baru.

Ke depannya, sektor tekstil berpotensi kembali menjadi sorotan utama. Hal ini terutama jika kebijakan yang dijalankan mampu mendorong efisiensi, meningkatkan daya saing, serta memperkuat struktur industri nasional secara berkelanjutan.

Related Post