Ekonomi Malaysia Melonjak 4,9% 2025: Ancaman Tarif AS Tak Gentar

Author Image

Mais Nurdin

18 Januari 2026, 11:20 WIB

Perekonomian Malaysia menunjukkan ketangguhan yang mengesankan di tengah gelombang tekanan ekonomi global, terutama yang dipicu oleh kebijakan tarif ketat yang diterapkan Amerika Serikat.

Meskipun menghadapi tantangan tersebut, Negeri Jiran berhasil membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9% secara tahunan sepanjang tahun 2025. Angka ini melampaui proyeksi resmi pemerintah yang sebelumnya dipatok pada kisaran 4% hingga 4,8%.

Departemen Statistik Malaysia melaporkan bahwa pada kuartal keempat tahun 2025, yaitu periode Oktober hingga Desember, produk domestik bruto (PDB) Malaysia mengalami lonjakan signifikan sebesar 5,7% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Capaian ini bahkan melampaui perkiraan median analis yang memprediksi pertumbuhan sebesar 5,4%.

Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Malaysia

Pertumbuhan ekonomi Malaysia ini ditopang oleh performa solid dari sektor jasa dan manufaktur. Sektor-sektor ini mampu memberikan kontribusi positif yang efektif mengimbangi dampak negatif dari kebijakan tarif sebesar 19% yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Permintaan domestik yang kuat juga menjadi fondasi penting bagi stabilitas ekonomi Malaysia. Hal ini tercermin dari tingkat pengangguran yang berhasil menyentuh titik terendah dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Ekspor Malaysia juga menunjukkan ketahanan yang patut diapresiasi, meski harus menghadapi berbagai tekanan dari pasar internasional. Namun, pemerintah tidak menutup mata terhadap risiko yang masih membayangi, terutama mengingat adanya kontraksi ekspor ke Amerika Serikat pada bulan Oktober dan November tahun 2025.

Proyeksi Ekonomi Jangka Mendatang

Ke depan, konsumsi swasta diprediksi akan tetap menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi Malaysia.

Namun demikian, pemerintah memperkirakan adanya perlambatan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026. Diproyeksikan ekonomi akan bergerak pada kisaran 4% hingga 4,5% seiring dengan meningkatnya volatilitas global yang berpotensi memberikan pengaruh.

Related Post