Kuota Beras SPHP Naik, Amran: Solusi Pangan Berkualitas Murah

Author Image

Mais Nurdin

18 Januari 2026, 11:37 WIB

Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis untuk menstabilkan harga beras nasional menjelang tahun 2026. Salah satu kebijakan utama adalah memperluas batas pembelian beras dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi maksimal 25 kilogram per orang. Kebijakan ini akan mulai berlaku efektif pada Februari 2026.

Langkah ini diambil seiring dengan keyakinan pemerintah akan ketersediaan stok beras nasional yang aman, ditambah dengan proyeksi peningkatan produksi beras yang signifikan seiring dengan datangnya musim panen raya. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menggarisbawahi pentingnya penyaluran beras SPHP yang konsisten sebagai instrumen krusial dalam menjaga harga beras medium agar tetap berada dalam koridor Harga Eceran Tertinggi (HET).

Dengan adanya dukungan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang diproyeksikan mencapai 3,2 juta ton di awal tahun 2026, pemerintah optimis dapat meredam gejolak harga sepanjang tahun mendatang.

Amran: Kunci Stabilitas Harga Berada di Hulu hingga Hilir

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menekankan bahwa kekuatan stok CBP menjadi pondasi utama dalam menjaga stabilitas harga beras. Ia memaparkan bahwa keseimbangan dari hulu ke hilir sangatlah vital.

“Produksi yang kuat di hulu, pengelolaan yang solid di tengah, dan penyerapan maksimal di hilir merupakan kunci menjaga swasembada pangan sekaligus melangkah ke tahap penguatan berikutnya,” tegas Amran.

Lebih lanjut, Amran menambahkan bahwa dengan melimpahnya stok, peningkatan produksi, dan perluasan kuota pembelian SPHP, pemerintah menargetkan stabilitas harga beras dapat terjaga sepanjang tahun 2026.

Ia juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan beras SPHP sebagai pilihan konsumsi yang berkualitas dan terjangkau. Langkah ini diharapkan dapat sekaligus mendukung ekosistem pangan nasional yang berkelanjutan.

Stok Aman, Distribusi SPHP Berjalan Tanpa Jeda

Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, memberikan jaminan bahwa tidak akan terjadi kekosongan pasokan beras SPHP pada awal tahun 2026. Kepastian ini didukung oleh perencanaan yang matang.

“Setelah distribusi SPHP diperpanjang hingga 31 Januari 2026, kami juga telah menyiapkan alokasi baru sebesar 1,5 juta ton untuk sepanjang tahun 2026,” ungkap Sarwo Edhy di Jakarta pada Sabtu (17/1/2026).

Hal ini, lanjut Edhy, akan memastikan program SPHP dapat terus berjalan tanpa hambatan. Program ini memegang peranan penting sebagai penyeimbang harga beras di pasar, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.

Harga Beras Mulai Menunjukkan Tren Stabil

Data dari Panel Harga Pangan Bapanas mengindikasikan bahwa rata-rata harga beras medium nasional mulai bergerak stabil. Meskipun demikian, harga tersebut masih berada di kisaran Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

Kondisi ini diprediksi akan semakin membaik dalam beberapa bulan ke depan. Peningkatan produksi beras nasional yang sedang berlangsung menjadi faktor utama yang mendorong stabilitas harga ini.

Produksi Beras Diproyeksikan Meningkat Signifikan Menjelang Panen Raya

Proyeksi Neraca Pangan Nasional tahun 2026 menunjukkan angka yang menggembirakan terkait produksi beras. Pada bulan Januari 2026, produksi beras nasional diperkirakan mencapai 1,79 juta ton.

Angka ini diprediksi akan melonjak tajam pada bulan Februari 2026, dengan perkiraan produksi mencapai 2,98 juta ton. Puncak musim panen raya sendiri diproyeksikan akan terjadi pada bulan Maret dan April 2026.

Pada periode puncak tersebut, produksi beras berpotensi mencapai angka luar biasa, yaitu sekitar 5 juta ton per bulannya. Lonjakan produksi ini akan mendorong pemerintah untuk melakukan penyaluran beras SPHP secara lebih selektif. Tujuannya adalah agar tidak terjadi gangguan terhadap harga gabah petani.

Related Post