RABAT — Tim Nasional Senegal menahbiskan diri sebagai juara Piala Afrika (AFCON) 2025 setelah menaklukkan tuan rumah Maroko dengan skor tipis 1-0 dalam sebuah final yang paling dramatis dan kontroversial sepanjang sejarah turnamen. Pertandingan yang digelar di Stadion Prince Moulay Abdallah, Rabat, pada Senin (19/1/2026) dini hari WIB, diputuskan oleh gol tunggal dari Pape Gueye di babak perpanjangan waktu, sekaligus memupus mimpi Maroko untuk mengakhiri puasa gelar sejak tahun 1976.
Kemenangan ini menandai gelar Piala Afrika kedua bagi Les Lions de la Teranga, menyamai capaian mereka pada edisi 2021. Di sisi lain, Singa Atlas harus menelan pil pahit di hadapan puluhan ribu pendukung sendiri, memperpanjang penantian panjang mereka meraih trofi kontinental.
Titik Balik: Penalti Kontroversial Brahim Díaz
Jalannya pertandingan selama 90 menit waktu normal berjalan alot, dengan kedua tim gagal memaksimalkan sejumlah peluang emas. Drama memuncak di masa injury time babak kedua.
Baca Juga
Kontroversi dan Aksi Protes
Maroko, yang tampil lebih agresif dengan 13 percobaan tembakan, mendapat kesempatan emas untuk mengunci gelar setelah wasit Jean-Jacques Ndala memberikan penalti pada menit ke-94 menyusul tinjauan VAR. Keputusan itu diberikan setelah bek Senegal, El Hadji Malick Diouf, dianggap melanggar bintang Maroko, Brahim Díaz, di kotak terlarang.
Keputusan tersebut memicu reaksi keras. Pelatih Senegal, Pape Thiaw, bahkan sempat memerintahkan para pemainnya untuk meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes, yang menyebabkan pertandingan tertunda hingga 20 menit. Di tengah kekacauan, sosok kapten veteran, Sadio Mané, tampil sebagai penyelamat wajah sepak bola Afrika. Mané, yang juga mencetak gol penentu kemenangan di semifinal melawan Mesir, membujuk rekan-rekannya untuk kembali melanjutkan pertandingan.
Kegagalan Panenka Brahim Díaz
Setelah insiden protes mereda, Brahim Díaz maju sebagai eksekutor. Namun, upaya tendangan ‘Panenka’ yang dilepaskan pemain Real Madrid tersebut berhasil dibaca dengan sempurna dan ditepis oleh kiper Senegal, Edouard Mendy. Kegagalan penalti ini menjadi momen krusial yang meruntuhkan moral tim Maroko dan sebaliknya menaikkan semangat juang Senegal.
Pape Gueye dan Gelar Kedua Senegal
Memasuki babak perpanjangan waktu, momentum sepenuhnya beralih ke kubu Senegal. Hanya empat menit berjalan, kebuntuan pecah. Gelandang Pape Gueye muncul sebagai pahlawan setelah menerima umpan dari Idrissa Gueye, melakukan solo run, dan melepaskan tembakan keras kaki kiri yang tak mampu dijangkau kiper Yassine Bounou.
Gol tersebut memastikan skor 1-0 dan mengunci gelar juara Senegal di Piala Afrika 2025. Walaupun Maroko sempat mengancam lewat sundulan Nayef Aguerd yang membentur mistar, Senegal berhasil mempertahankan keunggulan hingga peluit panjang dibunyikan.
Sadio Mané dan Isyarat Pensiun
Di balik perayaan gelar kedua, Sadio Mané mengisyaratkan bahwa AFCON 2025 akan menjadi turnamen Piala Afrika terakhirnya, meskipun ia masih bersedia memperkuat timnas hingga Piala Dunia 2026. Sementara itu, Brahim Díaz, meski gagal di momen krusial, tetap menjadi salah satu sorotan sebagai pencetak gol terbanyak turnamen.
Drama Senegal vs Maroko di final ini tidak hanya melahirkan juara baru, tetapi juga meninggalkan perdebatan sengit tentang kepemimpinan, sportivitas, dan peran VAR dalam sepak bola Afrika.




