Keterbatasan sumber daya alam global mendorong negara-negara di dunia untuk menerapkan strategi _survival pragmatis_ demi menjaga eksistensi mereka. Situasi geopolitik yang semakin tidak menentu juga turut berkontribusi pada fenomena di mana praktik demokrasi terkadang tidak selaras dengan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat.
“Sekarang ini tren negara-negara dunia adalah _survival pragmatis_. Yang penting bisa bertahan hidup,” ujar Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah, saat memberikan pandangan dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kebangsaan pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Persaingan antarnegara yang kian menajam memperkuat peringatan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai dinamika politik global. Dalam pandangan tersebut, negara kuat cenderung bertindak sekehendaknya, sementara negara lemah harus terpaksa menerima keadaan.
Baca Juga
“Pesan Presiden Prabowo relevan dengan kondisi hari ini. Yang kuat bisa berbuat apa saja, yang lemah terpaksa menerima,” tegas Fahri Hamzah.
Fahri Hamzah menyoroti konflik kepentingan global yang melibatkan Amerika Serikat dan Venezuela sebagai contoh nyata. Ia mengemukakan bahwa langkah agresif Amerika Serikat terhadap Venezuela didorong oleh motif penguasaan sumber daya minyak, yang sebelumnya dikuasai oleh Tiongkok dan Rusia.
“Ini menunjukkan bahwa sumber daya alam menjadi faktor utama dalam pertarungan geopolitik,” ungkapnya.
Selain Venezuela, Fahri juga menyinggung rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih wilayah Greenland yang merupakan milik Denmark. Kejadian tersebut memicu ketegangan di antara negara-negara anggota NATO dan sekutunya.
“Gambaran dunia yang selama ini diperingatkan Pak Prabowo mulai terlihat nyata,” tegas Fahri.
Dalam konteks Indonesia, Fahri mengingatkan agar bangsa ini tidak lengah. Indonesia dianggap memiliki kerentanan strategis karena kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah.
“Kita pernah menjadi korban keserakahan negara lain. Indonesia dikenal sebagai negara kaya mineral, energi, hutan, dan hasil laut. Dalam kalkulasi geopolitik, ini menjadikan kita target potensial,” ujarnya.
Ia mengkritik elite nasional yang dinilai masih larut dalam konflik internal dan perdebatan tafsir konstitusi. Kondisi ini dinilai melemahkan posisi Indonesia di mata global.
“Konflik elite yang tak berkesudahan membuat negara rapuh dan membuka peluang intervensi asing,” katanya.
Lebih lanjut, Fahri Hamzah menyatakan dukungannya terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat pertahanan nasional. Pembentukan batalyon tempur di daerah menjadi salah satu langkah antisipasi terhadap ancaman asing.
“Pak Prabowo bukan sosok yang gemar perang, tapi beliau percaya satu-satunya jalan menuju perdamaian adalah kesiapan menghadapi perang,” ucap Fahri.
Di sisi lain, Fahri menyoroti upaya pemerintah dalam mengurangi ketimpangan sosial. Hal ini diupayakan melalui efisiensi belanja birokrasi dan pengelolaan sumber daya yang lebih ketat.
Dana yang berhasil dihemat dialihkan untuk program strategis seperti makan bergizi gratis, pendidikan, dan perlindungan generasi muda.
“Tujuannya agar Indonesia keluar dari kemiskinan ekstrem dan menghilangkan ketegangan sosial,” jelas Fahri.
Fahri menegaskan bahwa di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, konsolidasi nasional menjadi kunci utama kekuatan suatu negara. Partai Gelora, menurutnya, akan terus mendorong diskusi kebangsaan dan mengajak elite nasional untuk bersatu menghadapi tantangan global.
“Kita harus memastikan kegagalan konsolidasi elite dan demokrasi yang terjadi di Barat tidak terulang di Indonesia. Kita punya fondasi kuat: Pancasila dan konstitusi,” pungkasnya.




