Jakarta – Raksasa teknologi global, Meta Platforms Inc., secara resmi meluncurkan sebuah inisiatif monumental bernama Meta Compute. Program ini dirancang dengan tujuan utama untuk memperkuat dan memperluas secara signifikan infrastruktur kecerdasan artifisial (AI) perusahaan, menandai babak baru dalam perlombaan teknologi di kancah global. Langkah strategis ini mencerminkan pengakuan Meta bahwa dominasi di era AI modern sangat bergantung pada fondasi komputasi yang kokoh dan tak terbatas.
Peluncuran Meta Compute bukan sekadar peningkatan kapasitas biasa, melainkan sebuah visi jangka panjang yang ambisius untuk secara drastis memperluas jejak energi Meta. CEO Mark Zuckerberg, dalam sebuah unggahan di platform Threads, menegaskan komitmen perusahaan untuk membangun kapasitas energi dalam skala puluhan gigawatt dalam dekade ini. Ambisi tersebut bahkan diproyeksikan mencapai ratusan gigawatt atau lebih seiring berjalannya waktu, untuk mendukung kebutuhan AI yang terus melonjak.
Peluncuran Meta Compute: Fondasi Kekuatan AI Masa Depan
Inisiatif Meta Compute secara fundamental akan membentuk tulang punggung bagi pengembangan dan operasionalisasi sistem AI Meta di masa depan. Berdasarkan laporan dari TechCrunch pada Senin (12/1) waktu setempat, Mark Zuckerberg secara eksplisit menyatakan bahwa tujuan utama di balik peluncuran ini adalah untuk memperluas jejak energi perusahaan secara drastis dalam beberapa tahun mendatang, sebuah investasi yang sangat besar.
Baca Juga
“Meta berencana membangun puluhan gigawatt pada dekade ini, dan ratusan gigawatt atau lebih seiring waktu. Cara kami merekayasa, berinvestasi, dan bermitra untuk membangun infrastruktur ini akan menjadi keunggulan strategis,” tulis Zuckerberg dalam unggahan tersebut, menekankan pentingnya infrastruktur sebagai pilar keunggulan kompetitif.
Gigawatt sendiri adalah satuan daya listrik yang setara dengan satu miliar watt. Angka ini menggambarkan skala kebutuhan daya yang sangat besar, setara dengan daya keluaran beberapa pembangkit listrik besar. Dengan ambisi mencapai ratusan gigawatt, Meta secara efektif merencanakan untuk membangun kapasitas daya yang sebanding dengan kebutuhan energi sebuah negara kecil.
Tantangan Energi dalam Era Kecerdasan Artifisial
Lonjakan minat dan investasi pada teknologi AI telah memunculkan tantangan baru yang signifikan, terutama dalam hal konsumsi energi. Model-model AI modern, khususnya model bahasa besar (Large Language Models/LLM) dan sistem AI generatif, memerlukan daya komputasi yang luar biasa besar untuk pelatihan (training) dan inferensi (execution).
Proses pelatihan melibatkan pengolahan triliunan parameter dan petabita data, yang membutuhkan ribuan bahkan puluhan ribu unit prosesor grafis (GPU) yang bekerja secara paralel selama berbulan-bulan. Hal ini tidak hanya memerlukan chip canggih, tetapi juga infrastruktur pendinginan yang intensif dan pasokan listrik yang stabil dan masif. Oleh karena itu, bisnis AI yang haus energi ini diprediksi akan mendorong lonjakan konsumsi listrik secara eksponensial di Amerika Serikat dalam dekade mendatang, dengan beberapa perkiraan menyebutkan peningkatan dari 5 GW menjadi 50 GW.
Kebutuhan energi yang ekstrem ini membuat investasi pada infrastruktur daya menjadi faktor krusial bagi perusahaan teknologi yang ingin menjadi pemimpin di bidang AI. Ini bukan lagi sekadar membangun pusat data, melainkan membangun “pembangkit listrik” data yang terintegrasi untuk mendukung ambisi AI mereka.
Tim Kepemimpinan di Balik Inisiatif Raksasa Meta Compute
Untuk mewujudkan proyek ambisius ini, Zuckerberg telah menunjuk tiga eksekutif kunci dengan latar belakang yang beragam, masing-masing membawa keahlian penting untuk keberhasilan Meta Compute.
Santosh Janardhan: Penggerak Infrastruktur Global
Santosh Janardhan, yang telah bergabung dengan Meta sejak tahun 2009 dan saat ini menjabat sebagai Kepala Infrastruktur Global Perusahaan, akan memimpin pekerjaan krusial dalam “arsitektur teknis hingga pembangunan dan pengoperasian armada pusat data dan jaringan global perusahaan.” Perannya sangat vital dalam memastikan bahwa semua komponen fisik dan digital infrastruktur berfungsi secara optimal dan mampu mendukung skala yang diharapkan.
Daniel Gross: Arsitek Strategi Kapasitas Jangka Panjang
Daniel Gross, yang baru bergabung dengan Meta tahun lalu setelah sebelumnya menjadi salah satu pendiri Safe Superintelligence, akan memimpin kelompok baru di Meta. Kelompok ini bertanggung jawab atas “strategi kapasitas jangka panjang, kemitraan pemasok, analisis industri, perencanaan, dan pemodelan bisnis.” Keahlian Gross akan sangat penting dalam mengantisipasi kebutuhan masa depan dan membangun ekosistem pasokan yang efisien dan berkelanjutan.
Dina Powell McCormick: Jembatan Hubungan Pemerintah
Melengkapi tim, Dina Powell McCormick, seorang mantan pejabat pemerintah yang juga baru bergabung dengan Meta sebagai presiden dan wakil ketua perusahaan, akan mengemban tanggung jawab penting. Ia akan bekerja sama dengan pemerintah untuk membantu “membangun, menerapkan, berinvestasi, dan membiayai infrastruktur Meta.” Peran ini krusial untuk menavigasi regulasi, mendapatkan izin, dan menjalin kemitraan publik-swasta yang mendukung proyek berskala raksasa ini.
Investasi Agresif dan Visi “Superintelligence” Meta
Ambisi Meta untuk mendominasi lanskap AI telah terlihat jelas dari proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan. Meta telah menegaskan rencananya untuk menggelontorkan dana besar guna membangun kapasitas yang dibutuhkan oleh bisnis AI-nya, menandakan keyakinan kuat terhadap potensi keuntungan jangka panjang dari investasi ini.
“Kami memperkirakan bahwa pengembangan infrastruktur AI terdepan akan menjadi keunggulan inti dalam menciptakan model AI terbaik dan pengalaman produk,” ujar Susan Li, CFO Meta, pada musim panas lalu, menegaskan pandangan strategis perusahaan terhadap infrastruktur AI sebagai pembeda utama.
Laporan dari Engadget juga mengungkapkan bahwa Meta telah berinvestasi secara besar-besaran dalam infrastruktur untuk mendukung ambisi “superintelligence” AI-nya. Ini termasuk pengumuman tiga perjanjian baru untuk membeli pasokan energi nuklir dalam jumlah besar. Pilihan energi nuklir menunjukkan preferensi Meta terhadap sumber daya yang stabil, bebas emisi karbon, dan mampu menyediakan pasokan daya baseload yang berkelanjutan, sangat ideal untuk operasional pusat data 24/7.
Mark Zuckerberg bahkan secara eksplisit telah mengemukakan perkiraan bahwa Meta akan menghabiskan sekitar 600 miliar dolar AS untuk infrastruktur AI dan lapangan kerja hingga tahun 2028. Angka ini menggarisbawahi skala investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menunjukkan keseriusan Meta dalam persaingan AI global.
Implikasi Strategis dan Masa Depan Lanskap AI
Investasi masif dalam Meta Compute dan infrastruktur energi mencerminkan lebih dari sekadar kebutuhan operasional; ini adalah langkah strategis untuk menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Dengan mengendalikan infrastruktur dasarnya, Meta dapat mengoptimalkan efisiensi, mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga, dan mempercepat inovasi produk AI mereka.
Langkah Meta ini juga menyoroti persaingan sengit di antara raksasa teknologi lainnya. Perusahaan seperti Google, Microsoft, dan Amazon juga berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur AI dan solusi energi bersih untuk mendukung beban kerja AI mereka yang terus meningkat. Perlombaan ini bukan hanya tentang algoritma terbaik, tetapi juga tentang kapasitas fisik yang mampu menjalankan dan menskalakan algoritma tersebut.
Dengan fokus pada sumber energi bersih seperti nuklir, Meta juga berupaya mengatasi kekhawatiran lingkungan terkait konsumsi energi AI yang besar. Ini menunjukkan pergeseran menuju pendekatan yang lebih bertanggung jawab terhadap pembangunan infrastruktur teknologi di masa depan, meskipun tantangan dalam mencapai tujuan nol emisi karbon masih sangat besar.
Secara keseluruhan, inisiatif Meta Compute menandai era baru investasi infrastruktur berskala mega di sektor teknologi. Meta tidak hanya membangun perangkat lunak AI yang cerdas, tetapi juga fondasi fisik yang kuat untuk mendukung ambisi terbesarnya, membentuk lanskap kecerdasan artifisial untuk dekade mendatang.




