RunSight Kacamata Tunanetra Juara Inovasi Dunia Raih Posisi Top 20 Global SFT 2025

Author Image

Mais Nurdin

17 Januari 2026, 01:10 WIB

Tim Labmino, perwakilan Indonesia, berhasil menorehkan prestasi gemilang di panggung internasional dengan menembus 20 besar global dalam kompetisi Samsung Solve for Tomorrow (SFT) Global 2025. Inovasi mereka, RunSight, sebuah kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI), menjadi sorotan berkat potensi besar talenta muda Indonesia dalam menciptakan solusi teknologi yang berakar pada empati.

Debut Indonesia di SFT Global 2025 ini menghadirkan kisah inspiratif tentang bagaimana sebuah ide sederhana dapat berkembang menjadi inovasi yang diakui dunia. Tim Labmino, yang beranggotakan Anthony Edbert Feriyanto, Kaindra Rizq Sachio, Muhammad Fazil, dan Ariq Maulana Malik Ibrahim, sukses menghadirkan RunSight, sebuah kacamata pintar yang dirancang khusus untuk membantu penyandang disabilitas tunanetra berlari dengan aman dan mandiri.

RunSight lahir dari kepedulian mendalam terhadap teman dekat salah satu anggota tim yang mengalami kehilangan penglihatan namun tetap memiliki semangat untuk berolahraga. Keterbatasan alat bantu olahraga berbasis AI yang adaptif mendorong tim ini untuk menciptakan solusi yang inklusif. Tujuannya adalah memberikan rasa aman, kepercayaan diri, dan kebebasan bergerak bagi para pelari tunanetra.

Kaindra Rizq Sachio, salah satu perwakilan Tim Labmino, mengungkapkan inspirasi di balik terciptanya RunSight.

“RunSight lahir dari percakapan sederhana dengan seorang teman yang kehilangan penglihatan tetapi ingin terus berlari,” ujar Kaindra Rizq Sachio, dikutip dari Jakarta, Selasa, 16 Desember 2025.

“Kami percaya teknologi seharusnya tidak hanya mempermudah hidup, tetapi juga membuat ruang yang lebih inklusif bagi semua orang,” tambahnya.

Kaindra menambahkan bahwa inovasi olahraga yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk tunanetra masih tergolong minim.

“Kami terpanggil untuk membuat solusi yang benar-benar relevan,” tuturnya.

“Saat akhirnya kami berdiri di panggung global membawa nama Indonesia, kami merasa ide kecil ini akhirnya menemukan tempat yang lebih besar dan berdampak,” imbuhnya.

Perjalanan RunSight membawa Tim Labmino melalui serangkaian penjurian ketat di tingkat regional. Mereka bersaing dengan 39 tim dari berbagai regional Samsung di seluruh dunia, meliputi Eropa, Asia Tenggara & China, Timur Tengah & Afrika Utara, Negara-negara Persemakmuran, serta Amerika Utara & Amerika Latin.

Setelah meraih juara pertama di Indonesia, Tim Labmino melaju ke tahap regional. Seluruh proses seleksi regional dilaksanakan secara daring melalui ruang pertemuan virtual, di mana setiap tim mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan proyek mereka di hadapan juri dan peserta dari negara lain.

Anthony Edbert Feriyanto, Ketua Tim Labmino, membagikan pengalamannya selama tahap regional.

“Meski dilakukan secara daring, atmosfernya berbeda sekali karena kami harus mempresentasikan proyek di hadapan juri dan peserta dari berbagai negara,” ungkap Anthony.

Menurutnya, standar penilaian yang lebih tinggi menjadi tantangan tersendiri.

“Itu jadi tantangan sekaligus kebanggaan tersendiri karena kami membawa nama Indonesia dan ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di level internasional,” jelas Anthony.

Samsung Electronics Indonesia turut mengapresiasi pencapaian ini sebagai bukti nyata kemampuan pelajar Indonesia di kancah global. Bagus Erlangga, Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, menyatakan kebanggaannya.

“Tahun pertama Indonesia ikut SFT Global dan langsung masuk 20 besar dunia adalah pencapaian besar,” ujar Bagus Erlangga.

Ia menambahkan bahwa perjalanan Tim Labmino menunjukkan sinergi yang kuat antara kreativitas, teknologi, dan empati.

“Hal ini selaras dengan komitmen Samsung dan pemerintah dalam memperkuat literasi teknologi, mengembangkan talenta muda, dan membangun ekosistem inovasi yang inklusif,” pungkas Bagus.

Selama proses seleksi regional, Tim Labmino tidak hanya mendapatkan bimbingan teknis, tetapi juga membuka wawasan baru mengenai pengembangan ide yang melampaui konteks lokal. Masukan berharga dari juri internasional serta paparan terhadap tim-tim lain memberikan mereka perspektif baru dalam memecahkan masalah, mencakup aspek teknis, pengalaman pengguna, hingga potensi kolaborasi dengan komunitas.

Wawasan tersebut semakin memperkuat pemahaman mereka mengenai dampak positif teknologi dan meningkatkan kepercayaan diri untuk terus mengembangkan RunSight agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.

Perjalanan Tim Labmino menjadi bukti nyata bahwa langkah awal adalah yang terpenting. Hingga saat ini, tim ini telah menunjukkan kapasitasnya sebagai perwakilan inovator muda Indonesia di kancah global. Mereka membawa pulang pengalaman internasional, perspektif baru, serta tekad yang semakin kuat untuk terus berkarya dan berinovasi.

Perjalanan Tim Labmino dalam program Samsung Solve for Tomorrow masih terus berlanjut. Rangkaian seleksi dan tahapan berikutnya dijadwalkan akan diumumkan pada Februari 2026 mendatang.

Related Post