Nama finfluencer sekaligus pemilik Akademi Crypto, Timothy Ronald, kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, perhatian tertuju pada para korban investasi kripto Manta yang selama ini direkomendasikan olehnya. Dua Gen Z, Said yang berusia belasan tahun dan Younger yang berusia dua puluhan tahun, telah berani bersuara dan melaporkan Akademi Crypto milik Timothy Ronald serta rekannya, Kalimasada, ke Polda atas dugaan penipuan.
Said dan Younger hanyalah sebagian kecil dari ribuan member Akademi Crypto yang menjadi korban. Kerugian yang dialami Said mencapai Rp300 juta, sementara Younger merugi hingga Rp3 miliar. Fenomena ini diibaratkan seperti gunung es, di mana masih banyak member lain yang mengalami kerugian serupa akibat investasi yang dipromosikan Akademi Crypto, yang mematok biaya keanggotaan fantastis.
Younger menceritakan bagaimana investasinya sebesar Rp3 miliar, yang berasal dari hasil wirausaha, berujung pada masalah rumah tangga. “Rp3 miliar itu saya wirausaha. Keluarga dan istri saya awalnya enggak tahu saya investasi di Manta. Tapi dengan adanya kejadian ini, istri saya marah dan jadi enggak percaya lagi sama saya sampai sekarang,” ungkap Younger dalam sebuah podcast. Ia menambahkan bahwa rencananya untuk memiliki anak pun harus tertunda akibat peristiwa ini.
Baca Juga
Sementara itu, Said menceritakan kasus member lain yang disarankan untuk melakukan strategi buy and hold atau menyimpan aset kripto dalam jangka panjang. Akibatnya, member tersebut terpaksa meminjam uang dari pinjaman online (pinjol) hingga dikejar-kejar oleh debt collector. Ketika komplain disampaikan kepada Timothy Ronald, tanggapannya justru mengarah pada intimidasi. Said menirukan ucapan Timothy Ronald yang dikirim melalui pesan ancaman, “Sampai berjumpa cil.”
Strategi buy and hold sendiri adalah taktik membeli aset kripto dan menyimpannya dalam jangka waktu lama, dengan harapan nilainya akan meningkat di masa depan tanpa sering melakukan jual beli. Manta merupakan salah satu aset kripto yang paling gencar dipromosikan oleh Akademi Crypto, bersama dengan Render dan GMT.
Modus Penipuan Akademi Crypto
Akurat.co merangkum modus operandi yang diduga digunakan Akademi Crypto dalam menjerat para calon korbannya, khususnya dari kalangan Gen Z, berdasarkan penuturan Said dan Younger.
Keanggotaan Seumur Hidup dengan Iming-iming Manfaat
Younger dan Said mengungkapkan bahwa mereka bergabung dengan keanggotaan seumur hidup yang dibanderol seharga Rp50 juta. Keanggotaan ini dijanjikan berbagai manfaat, termasuk pertemuan personal dengan Timothy Ronald, serta sesi bimbingan mingguan bersama para “profesor” yang diklaim oleh Akademi Crypto.
Namun, janji-janji tersebut tidak pernah terwujud. Younger dan Said mengaku tidak pernah berkesempatan bertemu langsung, baik secara online maupun offline, dengan Timothy Ronald. Ketika mereka menanyakan klaim mengenai profesor dari luar negeri dan meminta bukti sertifikat lisensi, mereka justru mendapat respons kasar. Said menyebutkan bahwa Timothy Ronald membalas dengan ucapan seperti “anak anjing lo,” yang menunjukkan adanya unsur intimidasi.
Intimidasi ini berlanjut melalui pesan langsung (DM) di media sosial, komentar di platform media sosial, hingga pesan WhatsApp yang dikirim oleh buzzer atau “clipper” dari Akademi Crypto. Younger dan Said mengutip komentar yang menyasar mereka seperti, “Ngapain all in, fomo, pantesan rungkad.”
Strategi Buy and Hold Manta dengan Janji Manis
Younger mengaku secara portofolio atau akumulasi keuntungan (PNL), ia tidak pernah merasakan profit dari investasi Manta. Meskipun Manta sempat mencapai harga tertinggi (ATH) di level USD4,08 pada 12 Maret 2024, harganya kemudian anjlok drastis hingga menyentuh USD0,07.
Younger berinvestasi di Manta saat harganya berada di level USD3,3. Namun, ia tidak sempat melakukan profit taking karena Akademi Crypto mengarahkan untuk melakukan strategi hold and buy. Para mentor atau pelatihnya kerap mengajarkan bahwa aset kripto altcoin akan mengalami kenaikan luar biasa, bahkan hingga 18.000% dalam waktu dekat. Manta sendiri diklaim akan meroket 300-500%.
Younger mengaku tergiur dengan potensi keuntungan yang dijanjikan tersebut. Ia juga menambahkan bahwa mereka tidak bisa melakukan cut loss karena adanya ancaman. “Ada waktu di Senayan mereka bilang ketahuan cut loss manta kami hajar di tempat,” kenang Younger.
Younger menduga bahwa pihak Akademi Crypto mengambil keuntungan dari permainan harga Manta. Ia menjelaskan, “Saya rasa dia untung karena di kripto kan prinsipnya supply demand. Saat harga Manta masih USD3 semua org beli, sudah ATH di USD4 dia jual, profit taking. Ini lah yang kami enggak terima, setiap dia profit taking kami enggak dikasih tahu.”
Penjualan Personal Branding “Raja Kripto”
Di kalangan komunitas aset digital, Timothy Ronald dikenal luas dan sering dijuluki sebagai “raja kripto Indonesia.” Ia aktif sebagai seorang influencer, edukator, dan trader kripto. Gayanya yang kerap menampilkan kemewahan atau flexing di media sosial, termasuk koleksi mobil mewah seperti McLaren Senna, turut membangun citranya.
Total aset kripto Timothy Ronald disebut-sebut melampaui angka Rp1 triliun, dengan mayoritas didominasi oleh Bitcoin (BTC) dan aset digital fundamental lainnya. Melalui citra pencapaiannya yang gemilang, calon investor jarang mempertanyakan aspek legalitas atau lisensi yang dimiliki Timothy Ronald. Kesuksesannya secara finansial seolah menjadi jaminan atas keahliannya sebagai seorang finfluencer.
Younger mengakui, “Saya percaya dengan personal brandingnya sebagai raja kripto.”
Dengan segala penyesalan yang mendalam, Younger dan Said melaporkan Timothy Ronald ke Polda dengan harapan agar tidak ada lagi Gen Z lain yang menjadi korban serupa.
Tanggapan Pakar Kripto
Dr. Gema Goeyardi, Pendiri & CEO Astronacci International, turut menyayangkan beberapa tindakan yang dilakukan Akademi Crypto. Ia menyoroti kurangnya disiplin mentor dalam mengelola ekspektasi member mengenai keuntungan, serta minimnya etika saat member mengalami kesulitan finansial.
“Ada etika atau moral kita sebagai financial advisor itu dilarang mengatakan kata pasti,” ujar Dr. Gema. Ia menambahkan, “Kemudian kalau ada yang tidak terdeliver dari sisi layanan, tidak tercapai apa yang dijanjikan ke member, kalau saya akan minta maaf dan kasih tahu ke mereka bahwa ini ada trouble, solusinya begini, begitu. Tidak terdeliver itu karena mereka dapat windfall, dapat klien banyak tapi tidak dikelola secara professional karena mungkin tujuan awalnya mengeruk sebanyak–banyaknya.”
Dr. Gema juga mengkritik penggunaan gelar “profesor” oleh Akademi Crypto secara sembarangan. Ia menjelaskan bahwa gelar profesor diberikan kepada individu yang telah menempuh jenjang pendidikan S3 atau Doktor oleh institusi Universitas.
“Profesor itu ada jenjangnya, asisten profesor, associate professor baru professor. Ini membius masyarakat oh profesor ini guru gue. Semua orang kalau coba-coba ngaku-ngaku diri l0 profesor, gue kejar pasti karena gue dapetin asisten profesor aja enggak mudah. Selama ini saya diam, tapi when you fake it, im gonna take you hard,” tegas Dr. Gema.
Hal lain yang disesalkan Dr. Gema adalah rendahnya kesadaran investor mengenai pentingnya lisensi. Meskipun lisensi tidak menjamin keuntungan, namun sertifikasi dapat memberikan jaminan bahwa tidak ada niat buruk untuk menjerumuskan orang.
“Pas mereka bilang CFE (certified fraud examiner) kerja sama gue, sorry to say CFE yang senior-senior itu sakit hati lho. Dalam jokes nya itu, banyak yang sakit hati karena CFE itu bukan barang untuk Anda bercandain. Mereka untuk fundamental, kalua itu dibuat jokes itu enggak elok, enggak etis,” pungkas Dr. Gema.




