Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda bank-bank terbesar di Amerika Serikat bukan sekadar respons terhadap perlambatan ekonomi. Pergeseran kebutuhan keahlian akibat pesatnya adopsi Kecerdasan Buatan (AI) turut menjadi pemicu utama.
Sepanjang tahun lalu, enam bank raksasa Amerika Serikat menghapus sekitar 10.600 posisi, menyisakan total 1,09 juta karyawan. Fenomena ini menjadi penanda kuat bahwa industri perbankan global tengah memasuki era baru, di mana efisiensi, digitalisasi, dan otomatisasi mulai mendefinisikan ulang peran tenaga kerja konvensional di Wall Street.
PHK Bank AS Tertinggi Sejak 2016
Data Bloomberg menunjukkan, PHK yang terjadi tahun lalu merupakan yang terbesar sejak 2016. Kala itu, lebih dari 22.000 posisi terpaksa dieliminasi akibat tekanan pasca krisis finansial.
Baca Juga
Meskipun skalanya lebih kecil dibanding periode tersebut, tren pemangkasan karyawan kembali mengemuka. Bank-bank kini dihadapkan pada kombinasi perlambatan ekonomi, normalisasi volume transaksi pasca pandemi, serta investasi besar-besaran pada teknologi.
AI Mengubah Peta Tenaga Kerja Perbankan
Para eksekutif perbankan menilai bahwa tantangan ke depan bukan hanya soal jumlah karyawan, melainkan jenis keahlian yang dibutuhkan. Perubahan ini menjadi krusial dalam menghadapi lanskap perbankan yang dinamis.
CFO Morgan Stanley, Sharon Yeshaya, mengungkapkan adanya perubahan kebutuhan talenta yang berkelanjutan. Hal ini mendorong bank untuk terus meninjau komposisi sumber daya manusia di berbagai divisi guna memastikan keselarasan dengan perkembangan industri.
Menurut Yeshaya, isu AI menjadi sorotan utama karena potensi teknologi ini dalam menggantikan sebagian fungsi operasional dan analisis. Terutama, perannya terasa signifikan di lini _back office_ dan layanan rutin yang membutuhkan pemrosesan data skala besar dan berulang.
Strategi Berbeda antar Bank Besar
Bank-bank besar mengambil pendekatan yang beragam dalam menghadapi situasi ini. Wells Fargo dan Citigroup memilih jalur pemangkasan agresif sebagai bagian dari strategi restrukturisasi mereka.
Wells Fargo dilaporkan memangkas lebih dari 12.000 pegawai, sementara Citigroup bersiap untuk mengurangi ribuan posisi tambahan. Langkah ini diambil untuk mengefisiensikan operasional dan meningkatkan daya saing di tengah perubahan pasar.
Sebaliknya, JPMorgan Chase menunjukkan sikap yang berbeda dengan tetap merekrut karyawan untuk tahun 2025. Meski begitu, laju perekrutan ini diperkirakan akan melambat dibandingkan periode awal pandemi.
Sementara itu, Bank of America menerapkan pendekatan pengurangan alami. Bank ini memilih untuk tidak selalu mengisi posisi yang ditinggalkan oleh karyawan yang mengundurkan diri, sehingga secara bertahap mengurangi jumlah tenaga kerja tanpa melakukan PHK massal.
Dampak bagi Pekerja Muda dan Profesional Finansial
Bagi generasi muda, khususnya mereka yang berusia 18 hingga 35 tahun, tren PHK ini menjadi pengingat pentingnya adaptasi keahlian. Kompetensi digital, analitik data, dan pemahaman mendalam tentang AI menjadi semakin krusial untuk dapat bertahan dan berkembang di industri keuangan global yang terus berubah.
Gelombang PHK di bank-bank AS ini secara jelas menunjukkan adanya transformasi struktural yang tengah terjadi di industri perbankan dunia. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan efisiensi biaya operasional, tetapi juga mengenai relevansi peran sumber daya manusia di era dominasi AI.




