“Thomas Frank adalah manajer top, tetapi ini bukan Brentford lagi, ini level yang berbeda. Tottenham adalah klub besar dengan tuntutan tinggi,” kata Campbell.
“Mereka menginginkan kesuksesan dan kemajuan berkelanjutan. Jadi, saya tidak akan terkejut jika mereka berbicara dengan manajer lain,” tambahnya.
Ia juga menyoroti pentingnya performa di lapangan. “Terkadang Anda tidak harus menang, tapi jika tampil bagus dan menunjukkan arah yang benar, itu bisa membantu. Namun, sampai Anda mulai menang secara konsisten, pembicaraan dengan manajer lain akan terus ada,” ulasnya.
Amorim Dinilai Naif
Meskipun mendorong Amorim untuk kembali ke Premier League, Campbell juga menyoroti kegagalan sang pelatih di MU. Ia menilai Amorim bertindak naif selama menangani klub sebesar MU. Ia menyoroti tekanan besar yang kini dihadapi Frank, Campbell melihat Amorim kurang memahami besarnya MU.
“Tekanan selalu ada di level tertinggi, tapi di Tottenham, tekanannya datang dari segala arah,” ujarnya.
“Anda harus mampu mengelolanya, dengan pemain, manajemen, dan fans. Anda harus menjadi banyak hal sekaligus: negarawan, petarung, pelatih dengan sepak bola atraktif, dan tetap cerdas mengelola situasi,” ungkap eks bek Tottenham periode 1992-2001 ini.
“Betapa naifnya Ruben Amorim… kecuali Anda menang secara reguler, Anda tidak akan punya kendali,” kata Campbell.