Proyek ini dapat dikatakan sebagai misi yang hampir mustahil. Sebagai perbandingan, pembuatan tifo besar milik suporter timnas sepak bola berukuran 45×30 meter membutuhkan waktu satu bulan dengan melibatkan 30 orang.
Pengerjaan tifo PON Bela Diri Kudus 2025 dilakukan di GOR Bung Karno Kudus, yang luas lapangannya hanya 25×12 meter. Kondisi ini tentu tidak ideal untuk membentangkan kain sebesar itu, namun semangat para seniman muda ini tidak surut.
Tedi mengaku sempat panik di hari pertama pengerjaan. Namun, sebagai putra daerah Kudus, mereka merasa terpanggil untuk menjawab tantangan ini.
“Hari pertama kami sempat panik, tapi sebagai putra lokal Kudus kami harus menjawab tantangan itu,” kata Tedi.
Selama sepuluh hari penuh, tim ini rela tidak pulang ke rumah dan tidur di GOR demi memastikan proses pengeringan cat berjalan lancar. Tantangan terbesar muncul di awal, ketika cat tidak kunjung kering dan waktu semakin menipis.
Tedi mengenang bahwa kepercayaan diri mereka baru muncul di hari ketiga dan keempat. Meski demikian, mereka tetap yakin bahwa proyek ini akan berhasil.
“Kepercayaan diri kami baru muncul di hari ketiga dan keempat. Tapi sejak awal kami tetap percaya ini akan jadi,” kenangnya.
Melukis dengan Tangan
Dua hari pertama dihabiskan untuk mempelajari karakter kain blacu. Setelah melakukan uji coba, mereka menemukan bahwa roller painter tidak dapat menghasilkan warna yang merata. Akhirnya, seluruh proses pengecatan dilakukan secara manual menggunakan kuas dan tangan.
Tedi berpendapat bahwa karya seni yang dikerjakan dengan tangan akan memiliki jiwa yang lebih hidup.
“Karya seni lebih punya nyawa kalau dikerjakan dengan tangan,” kata Tedi.