Untuk menjaga presisi tanpa menggunakan proyektor, mereka membuat grid dari tali rafia dan menggambar berdasarkan perhitungan proporsional. Mereka menyadari bahwa satu kesalahan kecil saja dapat mengubah keseluruhan gambar.
“Kami hanya pakai grid dan feeling. Sekali salah coret, tidak bisa dihapus,” jelasnya.
Mereka menghabiskan total 230 kilogram cat dengan 20 warna berbeda untuk menciptakan gradasi warna dan kedalaman visual. Hasilnya adalah tifo raksasa yang tidak hanya megah, tetapi juga hidup berkat sentuhan tangan-tangan kreatif anak muda Kudus.
Setelah digunakan dalam acara pembukaan PON Bela Diri, kain tifo ini akan diubah menjadi totebag eksklusif sebagai cenderamata bagi para peraih medali. Tedi menjelaskan bahwa tas tersebut akan sangat berharga karena dibuat dengan penuh tantangan oleh anak muda Kudus.
“Tas itu sangat berharga karena dibuat dengan penuh tantangan oleh anak muda Kudus,” ujar Tedi.
Proyek ini merupakan kolaborasi perdana Kudus Smart Art dengan Djarum Foundation sebagai penyelenggara PON Bela Diri Kudus 2025. Ini juga menjadi bukti bahwa kerja tulus dan cinta terhadap kota sendiri dapat menghasilkan karya yang membanggakan.
Tedi menegaskan bahwa mereka tidak pernah mengejar keuntungan dalam berkarya. Tujuan utama mereka adalah menciptakan karya yang dapat membanggakan masyarakat Kudus.
“Kami tidak pernah mengejar untung. Kami hanya ingin berkarya dengan hati. Kalau bisa membuat orang bangga dengan karya anak Kudus, itu sudah cukup,” pungkas Tedi.