Loretta Dorstyn, peneliti utama dari Pusat Biologi Kanker (Center for Cancer Biology), menjelaskan bahwa sel-sel hati umumnya memiliki salinan materi genetik ekstra yang dikenal sebagai poliploidi.
“Meskipun elemen ini dapat membantu hati mengatasi stres, studi kami menunjukkan bahwa tanpa enzim Caspase-2, tingkat poliploidi yang tinggi secara tidak normal pada hati dapat memicu kerusakan,” ujar Dorstyn.
Kondisi poliploidi yang tidak terkontrol, tanpa peran Caspase-2, berbalik menjadi faktor risiko alih-alih pelindung.
Bukti dari Penelitian pada Tikus
Kerusakan Selular dan Genetik
Untuk menguji hipotesis ini, para peneliti melakukan percobaan pada tikus. Tikus yang kekurangan enzim Caspase-2 atau memiliki versi enzim yang tidak lagi berfungsi menunjukkan hasil yang mengkhawatirkan.
Sel-sel hati pada tikus-tikus ini ditemukan memiliki ukuran yang besar secara tidak normal, disertai dengan jumlah kerusakan genetik dan selular yang berlebihan.
Progresi Penyakit Hati Kronis
Dampak dari disfungsi Caspase-2 pada tikus-tikus ini semakin parah seiring berjalannya waktu. Para peneliti mengamati bahwa tikus-tikus ini mengalami peradangan hati kronis.
Kondisi hati mereka menyerupai hepatitis, ditandai dengan jaringan parut atau fibrosis, kerusakan oksidatif, dan jenis kematian sel yang secara spesifik dikaitkan dengan peradangan.
“Seiring berjalannya waktu, tikus-tikus ini mengalami peradangan hati kronis dan karakteristik penyakit hati yang menyerupai hepatitis, termasuk jaringan parut, kerusakan oksidatif, dan jenis kematian sel yang dikaitkan dengan peradangan,” ujar Dorstyn menjelaskan lebih lanjut.